Sayur caisim (Brassica juncea L.) merupakan salah satu komoditas sayuran penting di kawasan Asia Tenggara yang permintaannya terus meningkat. Menanggapi hal ini, inovasi dalam teknik budidaya menjadi sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan lahan, dan kualitas hasil panen. Salah satu teknologi modern yang diterapkan adalah sistem aeroponik, yakni metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah dengan akar tanaman yang disemprot nutrisi secara langsung. Studi Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan di Pham Van Coi, Cu Chi, Ho Chi Minh City, Vietnam — sebuah pusat pertanian berteknologi tinggi — memberikan gambaran nyata tentang penerapan sistem aeroponik dalam budidaya caisim yang sangat efektif dan berkelanjutan.

Pelaksanaan PKL berlangsung selama 10 hari (22 Februari – 3 Maret 2019) dan menggunakan metode observasi langsung, wawancara dengan pemilik lahan, serta dokumentasi berjalan secara komprehensif. Budidaya caisim di Pham Van Coi menerapkan proses yang terstruktur, mulai dari penyemaian benih dalam media rockwool yang mampu menyimpan air dan nutrisi dengan optimal, hingga pembibitan dalam bak styrofoam yang mengapung di larutan nutrisi serta azolla sebagai sumber hara tambahan. Instalasi aeroponik dibuat dari pipa paralon berlubang yang menampung tanaman dalam net pot. Nutrisi disemprotkan secara otomatis menggunakan pompa berdaya 125 watt dan nozzle spray yang menghasilkan semprotan halus, dikontrol oleh timer untuk efisiensi. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk organik padat hasil olahan sendiri untuk konsumsi internal, serta pupuk cair AB Mix untuk tanaman komersial dengan pengaturan ketat pada konsentrasi nutrisi. Pengendalian hama dilakukan secara manual dan menggunakan pestisida nabati sebagai langkah pencegahan dan pengobatan. Panen dilakukan berkala tiap satu bulan untuk konsumsi sendiri, dan 3-6 kali untuk tanaman yang dipasarkan dengan pemanenan selektif pada tanaman yang sudah siap panen.

Sistem aeroponik di Pham Van Coi menawarkan sejumlah keunggulan penting, seperti efisiensi pemanfaatan lahan, khususnya pada area terbatas dan urban, dengan hasil yang optimal. Tanaman tumbuh lebih cepat dan hasil panen bersih sesuai standar higienis yang ketat. Sistem sirkulasi nutrisi tertutup menjadikan penggunaan air dan pupuk lebih efisien serta minim limbah. Di samping itu, selain sebagai petani, pemilik lahan juga mengembangkan bisnis instalasi aeroponik yang dijual ke komunitas sekitar, menambah peluang usaha baru. Dari segi ekonomi, penjualan langsung ke konsumen memberikan margin keuntungan yang lebih besar dibandingkan melalui jalur supermarket tradisional.
Dari pengalaman tersebut dapat disimpulkan bahwa budidaya caisim dengan sistem aeroponik di Pham Van Coi membuktikan efektivitas teknologi tinggi dalam pertanian modern untuk meningkatkan hasil dan produktivitas secara berkelanjutan. Model ini sangat relevan untuk diadaptasi di Indonesia, terutama bagi petani skala kecil yang menghadapi keterbatasan lahan dan tuntutan pasar yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku agribisnis di Indonesia hendaknya memfasilitasi adopsi sistem aeroponik sebagai solusi teknologi pertanian urban dan skala kecil. Pendampingan teknis dan pelatihan juga perlu dikembangkan agar penerapan teknologi ini dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan, serta membuka akses bagi petani kecil melalui sistem pengelolaan lahan sewa.
Sumber:
Nisa, F. A. 2019. Teknik Budidaya Tanaman Sayur Caisim (Brassica juncea L.) dengan Sistem Aeroponik di Pham Van Coi, Cu Chi, Ho Chi Minh City, Vietnam. Universitas Wahid Hasyim, Semarang. (Laporan Praktek Kerja Lapang).