Sepenggal Cerita dari Kebun Trimulyo Hebat di Pesisir Semarang

Kebun akan terus lestari, jika memang keberadaan kebun ini memang benar dibutuhkan. Ini terbukti dengan kebun yang terletak di salah satu titik di pesisir Kota Semarang. Di Kelurahan Trimulyo, RT 05 RW 04, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Bu Jumiyati beserta beberapa warga berinisiasi untuk menciptakan kebun pangan dengan sumber daya yang ada. Sekitar pertengahan tahun 2019, kami bertemu di sebuah forum pelatihan pertanian perkotaan yang diadakan oleh pemerintah setempat. 

Pertemuan awal kami tersebut adalah awal kerjasama kami hingga saat ini. Para warga begitu bersemangat untuk mewujudkan kebun pangan yang mereka kelola sendiri. Permasalahan yang ditemukan adalah kualitas air yang cenderung asam akibat intrusi air laut di wilayah ini. Lokasi ini benar-benar di ujung area kelurahan yang berdekatan dengan garis pantai serta diapit oleh pabrik-pabrik. Memanglah, kelurahan ini ada berdampingan dengan area industri terboyo. 

Lokasi Perkampungan Yang dikepung Kawasan Insdustri Terboyo, Semarang

Lokasi perkampungan Ibu Jumiati tidak banyak memiliki tanah terbuka yang luas, seperti halnya fasum-fasum yang kerap dimanfaatkan warga untuk berkebun bersama. Bahkan ketika mereka memulai berkebun, para warga menanam tanaman pangannya di sepanjang jalan di depan teras rumah mereka, yang berdampingan langsung dengan jalan kampung, tempat warga berlalu lalang. Berawal dari beberapa warga, akhirnya sebagain besar dari mereka mulai merasakan kebaikan dari kebun yang mereka upayakan secara swadaya ini. 

Air yang cenderung payau, kami siasati untuk dengan penggunaan AB mix di kebun mereka. Namun, tanah masih menjadi aktor utama, karena AB mix memang hanya diperuntukan sebagai cadangan nutrisi, serta penjaga kelmbaban di area yang cenderung panas ini. Larutan AB Mix disiapkan dan diisikan di paralon yang memanjang dibawah, dihubungkan dengan sumbu-sumbu ke polibag tanaman warga yang nangkring ditasnya. Strategi ini berhasil men-citra-kan kampung kecil ini menjadi kempung semi-organik-hidroponik pada saat itu. Kebun ini bahkan dilengkapi dengan beberapa titik pengomposan untuk memenuhi kebutuhan pupuk untuk kebun mereka. 

Pada masa pandemi di akhir 2019 hingga pertengahan tahun 2021 kebaikan dengan hadirnya kebun di tengah perkampungan mereka benar-benar lebih dirasakan. Beberapa hasil panen mereka gunakan untuk keperluan dapur rumah tangga mereka, selebihnya mereka jual di pasar. Namun, kenyataan tidak berpihak dengan mereka di paruh akhir tahun 2021. Banjir rob menerpa perkampungan mereka hingga memporak porandakan kebun pangan mereka yang hanya ditopang oleh papan-papan kayu bekas sisa kegiatan industri. 

Instalasi Kebun Yang Porak Poranda Akibat Banjir

Kini di penghujung tahun 2022, kami kembali menyambangi kawasan ini dan berniat untuk menghidupkan kembali kebun pangan yang masih mati suri ini. Pasca covid menerpa, kami pun juga harus kehilangan sosok-sosok penting yang ikut aktif dalam memutar roda kebun pangan ini. Dengan sisa semangat ini kami ingin mengundang relawan, serta masyarakat umum dari sebagai latar belakang pekerjaan, dan pendidikan untuk berkontribusi baik aktif maupun pasif bagi perbaikan di kawasan pemenuhan pangan warga ini. 

itsnanim

Leave A Comment