Skill Mendengar, Membaca, & Mengamati para Petani yang Nihil

Sudah lama kiranya kami tidak berdiskusi bertatap muka dengan pihak-pihak secara langsung. Sejak pandemi menghantam negeri ini, sepertinya kami hanya berkutat dengan kesibukan rutin di kebun mitra kami dengan seseskali mengisi kelas online. Setidaknya forum yang diadakan di depan kebun hikam yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Itqon, Bugen, Pedurungan, Kota Semarang ini, mengobati kerinduan kami tentang nikmatnya berkumpul dengan orang-orang yang memiliki keresehan yang sama. 

Tepatnya pada malam Senin (11/12), tepatnya Senin Pahing pada penanggalan jawa, pukul 21:00 waktu setempat hingga pukul 01:30 dini hari (12/12), adalah momen yang membuat kami bersemangat untuk kembali untuk berkontribusi di bidang ini lebih keras lagi. ”Suluk Senin Pahingan #15, Ngaji Bareng Mbah Ubed” begitu acara ini disebut. Angka tersebut menandakan forum ini adalah kali ke-15 digelar dengan tema-tema yang aktual. Forum kali ini, mengangkat isu yang menarik kami untuk hadir penuh di acara ini, yakni “Petani Indonesia”. 

Peserta dari berbagai kalangan pendidikan dan latar belakang hadir di forum ini. Mulai dari akademi, hingga aktivis LSM Lingkungan, Mulai dari santri hingga masyarakat biasa. Tidak ada batas yang kami rasakan disni, hal ini karena tidak ada dari kami yang lantas seakan sok tahu dan cenderung menggurui. Kami dianggap tahu saja dengan tema  yang diangkat, itu yang membuat kami tidak canggung untuk mengutarakan pendapat. Sambil mendengarkan lantunan musik rap dengan lirik bernada kritik, berhasil memantik keresahan kami, walaupun ini adalah kali pertama kami hadir di tengah mereka. 

Hadir pada malam itu,  tiga pembicara dengan satu moderator. mareka adalah Gus Mustain sebagai wakil dari Penggarak Petani Organik, Gus Munip sebagai pemerhati lingkungan, dan Gus Toha sebagai Petani. Masing-masing pembicara berbagai tentang apa saja yang sudah merek lakukan di kelompok dan komunitas mereka. lalu peserta secara bergantian memberikan tanggan hingga pertanyaan yang berangkat dari keresehan yang mereka rasakan. 

Beberapa isu penting dihembuskan pada malam itu, mulai dari regerasi petani, dilema peralihan sistem budidaya konvensional ke organik yang berpengaruh pada skala produksi dan biaya, ketergantungan petani pada pupuk pabrikan, ketimpangan ongkos produksi lahan dengan pendapatan yang diperoleh, hingga lahan nganggur yang ditinggalkan oleh penggarapnya akibat fenomena urbanisasi, serta tingkat pendidikan yang rendah di kalangan petani. Namun, forum ini ternyata tidak bertujuan untuk mencari solusi namun menampung keresahan setiap pihak yang kurang terdengar. Kebisingan di siang hari yang membuat suara mereka kadang kurang terdengar atau dianggap kurang penting. 

Kebun Hikam

Ini adalah sebuah kebanggan yang luar biasa kami rasakan, karena acara yang biasanya diadakan di Joglo Pondok, kali ini forum dibuka di ruang ‘Hikam’. Nama ruangan tersebut adalah alasan utama, kenapa kami menamai kebun pangan kecil yang kami buat di depan bangunantersebut sebagai “Kebun Hikam’. Kebun yang hadir di pertengahan tahun 2021 adalah kebun menjawab keputus asaan kami setelah kami merasakan ‘status quo’ untuk mengatasi regenerasi pentai di tingkat mahasiswa sebagai kelompok masyarakat berpendidikan. Justru dengan hadirnya kebun hikam, kami kembali bermimpi jikalau permasalahan regenerasi petani dapat dikolaborasikan dengan melibatkan pondok pesantren. 

Skill Mendengarkan, membaca, hingga mengamati, banyak di lakukan di lembaga pendidikan ini. Skill tersebut dirasa masih nihil di kalangan petani. Hal ini lagi-lagi adalah efek domino dari keterbelakangan informasi yang dimiliki oleh kalangan keluarga petani tentang kemajuan zaman. Kengganan mereka untuk menurunkan profesi itu kepada anak dan cucu mereka menambah pelik permasalahannya. Skill teknis pertanian di setiap tempat yang sangat spesigik membuat peran keluarga adalah tempat yang tepat untuk mengupayakan regenerasi petani.  

Selain dari keteramilan tersebut, para santri adalah kelompok masyarakat yang terbiasa dengan sopan santun kepada orang yang dituakan atau dengan orang yang berilmu. Sebuah budaya yang telah luntur dimakan oleh hadirnya zaman digital. Sudah tiga kali kami mencoba mengirimkan mahasiswa dan relawan ke project pertanian di luar negeri, dengan berharap mereka dapat berkontribusi aktif pada perbaikan pertanian di Indonesia setelahnya, hingga berkahir pada kebuntuan. Mereka pada lahirnya lebih memilih untuk berkarir di bidang usaha yang lebih mendatangkan banyak ‘cuan’.

Ada perasaan bangga yang muncul, ketika datang santri dampingan kami dan bercerita tentang pengalamannya mempraktikkan apa yang sudah mereka lakukan di kebun hikam. Mereka melakukannya di ladang orang tua mereka di kampung ketika masa liburan. Inginku berkata ‘eureka!’, bahwa mungkin pondok pesantren adalah salah satu pintu yang perlu kita buka untuk mendapatkan sedikit demi sedikin kekusutan permasalah pertanian negeri ini.

itsnanim

Leave A Comment