Penerapan ‘Companion Planting’ di Kebun Rembes

Sering kali kita melibatkan banyak alat ukur di lahan untuk mengetahui karakter tanah intensitas cahaya hingga unsur hara yang ada di dalam tanah. Inilah usaha kita sebagai manusia untuk mengenal alam sekitarnya untuk mendapatkan hasil yang melimpah di musim panen tiba. Tanpa kita sadari, alam berusaha berkomunikasi dengan kita dengan berbagai cara untuk menjelaskan kondisinya mulai dari warna daun, bentuk akar, hingga kondisi batang tanaman. Tidak butuh alat canggih untuk mendeteksinya hanya membutuhkan keahlian menangkap fenomena, memperhatikan dan memahami fenomena yang ada. 

Semakin majunya pencapaian pertanian, pecapaian metoda penanaman monokultur semakin menunjukan dampakangnya di lngkungan hidup yakni penurunan kualitas tanah. Menurunnya tingkat kesuburan tanah di lahan monokultur sejatinya dapat diminimalisir dampaknya dengan merotasi tanaman. Padahal, layaknya makhluk hidup yang lain tanaman juga memilki predator alami dan tanaman pendamping di alam asalnya.

Kami ingin berbagi cerita tentang teknik penanaman untuk menanggulangi permasalahan di atas atau paling tidak menekan munculnya resiko yang lebih buruk yang diakibatkannya dalam jangka panjang. ‘Companion Planting’ atau kerap dikenal dengan metoda tumpang sari atau polikultur yang sebenernya sudah diterapkan di Indonesia. Namun, teknik ini dipandang kurang populer karena dianggap boros nutrisi tanah oleh beberapa kalangan. 

Di salah satu sudut kebun rembes anda akan menemukan area penanaman tanaman buncis yang kami kondisikan berdampingan dengan bunga kertas dan marigold. Marigold memiliki aroma yang kurang disukai oleh serangga tertentu yang berpotensi menyebarkan penyakit tanaman, warna bunganya yang berdampingan dengan bunga kertas, diharapkan dapat memperpanjang umur dengan panen yang stabil kedepannya. 

Rapatnya ekosistem di kebun rembes, membuata berbagai serangga sangat beragam. Kebiasaan penggunaan herbisida membuat ekosistem tidak seimbang utamanya bagi serangga. Kebun kami hadirkan untuk mengendalikan kehadiran serangga dengan mengadakan tanaman yang disukai oleh para serangga predator untuk tinggal di lahan produksi kami. 

Ide awal dari metode ini adalah meniru alam dengan mengkombinasikan satu, dua atau lebih tanaman di dalam satu area penanaman seperti halnya tanaman di alam bebas. Sejatinya semua tanaman dapat padu padankan untuk memperpanjang umur dari tanaman yang kita tanam. Namun, berkembangnya ilmu pemuliaan tanaman, telah memunculkan beberapa varietas yang karakternya sudah bergeser dari karakternya di alam liar. Sehingga metode ini membutuhkan beberapa kali percobaan hingga menemukan kombinasi yang tepat untuk menangkal dampak negatif yang kerap ditemui di lahan. 

Menilik dari fakta di lahan pertanian perkotaan, sempitnya lahan adalah menjadi salah satu tantangan yang dapat diatasi dengan metode ‘companion planting’. Menganekaragamkan jenis tanaman pangan adalah sejalan dengan upaya meningkatkan produktifitas lahan yang terbatas. Sedangkan di beberapa lahan hijau di perkotaan atau area sub-urbans dapat dimaksimalkan kembali untuk ditanaman berbagai jenis tanaman yang tidak melulu tanaman pangan, namun tanaman yang dapat membentuk sebuah ekosisitem hijau yang mandiri sehingga dapat menekan penggunaan pesitida, hingga herbisida. 

Sebenarnya, setiap jenis tanaman yang kita kenal tidak akan menghabiskan nutrisi seketika dari dalam tanah. Buktinya, jika kita biarkan begitu saja bedeng kita tanpa adanya aktivitas penyiangan, akan muncul beberapa tanaman yang apabila kita lihat lebih teliti memiliki  fungsi menghindarkan tanaman utama dari hama atau penyakit yang dapat merugikan hingga hingga khasiat sebagai tanaman obat untuk si penanamnya. Keberadaan tanaman penutup lahan juga terbukti dapat mempertahankan nutrisi tanah untuk ada di permukaan dengan memberikan rongga-rongga tanah dengan akar-akarnya dengan memastikan tanah tetap gembur. 

Marigold di antara tanaman buncis

Lahan yang dibiarkan di tumbuhi oleh tanaman penutup lahan terbukti memiliki warna yang lebih gelap dari pada tanah yang dibiarkan gundul. Semakin gelap warna dari tanah menunjukan tanda-tanda kesuburan yang dapat berdampak pada tingkat produktivitas lahan jika lahan tersebut ditanami berbagai tanaman pangan. 

Semakin tanah berinteraksi dengan pupuk hijau, maka warna tanah akan semakin coklat gelap dan gembur terasa ketika kita menggenggamnya. Akar tanaman penutup lahan akan menghasilkan rapatnya ekosistem bedeng berpotensi untuk menghadirkan unsur-unsur mikro tanah yang diikat oleh akar tersebut yang jelas dapat dimanfaatkan oleh tanaman lain untuk tumbuh dengan sehat. Tanaman yang sehat diindikasikan dengan hasil panennya konsisten dengan masa hidup yang relatif lebih panjang.  

Author

  • Itsnani Mardlotillah

    I used to work as a Project Development specialist working with International networks such as CCIVS of UNESCO, NVDA, Africa Network, and Pan America, for more than 5 years. I am a multitasking person. I can be placed in several tasks. As a professional, I work independently as a bilingual writer (EN & ID), graphic designer, website developer, and collaborative freelance researcher. In 2017 I decided to establish my enterprise called Bhumi Horta. Now we have Bhumi Horta Ent or temanberkebun.com, Bhumi Media, and Bhumi Horta Foundation.

    View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *