Dua pekan lalu hingga dua pekan kedepan kami sedang sibuk berkebun di lahan kecil milik keluarga Mba Erin. Keberadaan kebun keluarga ini sebenarnya sudah cukup lama. Keluarga mba erin telah menanam beberapa kebutuhan dapur rumahnya di lahan kecil di samping rumah singgah mereka. Dengan berbekal beberapa informasi yang beliau dapatkan melalui media sosial, hasil penen kebun kecil sudah sempat menghiasi dapur dan meja makan mereka.
Namun beberapa bulan terakhir, Mba Erin sekeluarga dihadapan dengan lahan kebun mereka yang kurang produktif. Ubi madu yan ditanam biasanya berukuran besar tiba-tiba mengecil. Pohon cabe yang mereka tanam, merontokan daunnya kemudian berakhir mengering dan mati. Hiingga berbagai macam tumbuhan lainnya juga seperti mengikuti tren ini.
Tentunya beliau kebingunan mengapa kebun yang seblumnya produktif tiba-tiba menurun performanya secara drastis. Dari titik inilah kami akhirnya bertemu secara langsung dengan keluarga mba erin, setelah cukup lama berinteraksi melalui media sosial. Kami bertemu akhri bulan Mei sebelum akhirnya kebun ini mulai dikerjakan pada akhir pekan pertama bulan Juni.
Lahan ini kami kategorikan sebagai lahan yang sedang tertidur. Hal ini dikarenakan tidak ada jeda yang cukup dan penanaman jenis tanaman yang sporadis sehingga tanah terbilang jenuh setelah melewati bebetapa masa panen. Secara awam, gejala ini adalah pertanda bahwa tanah yang dipergunakan untuk berkebn telah ‘habis nutrisinya’. Padahal persepsi ini menurut hemat kami kurang tepat.
Lahan yang menurun produktifitasnya, dapat dipicu dari beberapa hal, baik eksternal dan internal. Secara internal, bisa jadi tanah membutuhkan waktu lebih untuk memulihkan nutrisi yang ada di dalamnya, namun secara bersamaan tanah ini masih menopang banyak kehidupan yang hidup diatasnya. Secara eksternal, sumber nutrisi alami yang cukup terbatas, Biasanya, kebun perkotaan tidak berdampingan langsung dengan kendang ternak yang notabene adalah sumber bio massa terbaik untuk menopang kehidupan dalam sebuah kebun. Tidak dipungkiri, cuaca yang cukup panas akhir-akhir ini, juga memaksa para petani untuk putar otak agar tanaman mereka dapat tumbuh dengan baik.
Secara alami, lahan yang sudah melewati beberapa masa panen perlu untuk diistirahatkan terlebih dahulu paling tidak 1 hingga 3 bulan. Untuk mempercepat masa pemulihan lahan, kita dapat menambahkan pupuk kadang di parit-parit kompos yang sudah disiapkan sebelumnya. Jangan lupa untuk menjaga kelembaban tanah agar mikroba alami dapat berkerja dengan baik dalam menyiapkan lahan kita. Salah satu triknya dalah dengan menutup lahan dengan mulsa alami seperti halnya daun kering. Setelah dibiarkan selama 1 minggu lamanya, kami aplikasikan Pupuk Organik Cair yang berasal banyak dari daun-daunan sekitar. Lalu tutup lahan kembali dengan mulsa alami untuk memastikan kelembaban tetap terjaga sampai 1 minggu kedepan.
Langkah selanjutnya dalah pemilihan jenis tanaman. Selalu upayakan mekukan rotasi tanaman sehingga nutrisi di dalam tanah tidak cepat habis. Tanah memiliki waktu untuk memulihkan kondisinya, namun kabar baiknya tanaman yang kita tanam tidak mengambil semua nutrisi yang ada, bahkan ada beberapa tanam malah mengingkat beberap nutriusi penting untuk masa tanam selanjutnya. Contoh rotasi tanaman di lahan adalah seperti, setelah penaman terong dan cabai, masa penanaman selanjutnya bisa dipilih kacang-kacangan atau sayuran daun, yang cenderung memerlukan nutrisi yang lebih sedikit atau memilki kecendrungan untuk menginkat nutrisi pada akar-nya. Pemilihan jenis tanaman juga dapat membantu petani untuk tidak banyak mengolah tanah dengan sistem bajak sehingga kinerja mereka lebih efisien.