Mengapa Kita Membutuhkan Kolam Mikroba?

Berbagai macam kondisi tanah yang sempat kami sambangi memiliki keunikan tersendiri. Tanah liat yang erat dengan areal persawahan di Kendal, tanah hitam yang biasa berdekatan dengan aktivitas gunung berapi seperti halnya di kaki gunung merbabu, tanah berpasir seperti yang kita temukan di beberapa lokasi di Jogja atau tanah merah yang biasa sering kamu temui di perkebunan tanaman keras seperti di Bukit Mijen, Gunungpati, dan Tembalang hingga tanah yang nyaris menyerah seperti di daerah pemukiman perkotaan seperti di Kebun Qita di  Kota Semarang. Tentunya langkah yang kami terapkan sangatlah berbeda. Namun, memiliki core tindakan yang sama yakni memperkaya tanah garapan dengan mikroba. Lalu seberapa pentingkah mikroba di lahan pertanian organik? 

Kebun yang kami dampingi sebagian besar kami terus dorong untuk menerapkan prinsip-prinsip permakultur. Salah satu prinsip “ Catch & Store The Energy” adalah salah satunya. Memberikan ruang tanaman untuk tumbuh tidak hanya menyediakan bedeng dengan nutrisi yang cukup. Namun, memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya berikut dampak dari perlakukan kita pada alam. Apakah lahan membutuhkan perlakukan lebih dalam mempersiapkan untuk masa tanam berikutnya? Jika ‘Iya’ maka barangkali ada tahapan yang terlewati dalam persiapan lahan di awal. 

Dalam Bukunya “Permaculture A Designers’ Manual” Bill Mollison menyajikan beberapa fakta salah satunya adalah waktu yang dibutuhkan petani untuk membuat kebun berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Secara teori, beberapa penggiat pertanian berkelanjutan membutuhkan waktu 3 – 4 tahun untuk memulai membentuk kebun dengan sistem yang berkesinambungan setiap bagian yang dihadirkan, sedangkan untuk mengembalikan bentuk dan fungsi asli lahan kembali secara sedia kala membutuhkan waktu 5 – 15 tahun. Tidak sebanding dengan cara manusia merusaknya untuk melancarkan kepentingannya bukan? Namun, teori ini berlaku hanya untuk lahan dengan luasan tertentu dan tidak ada paparan pupuk dan pestisida pabrikan serta tindakan pada lahan yang beresiko mengganggu proses rehabilitasi. Jika gangguan-gangguan tersebut masih terjadi, maka kita membutuhkan waktu lebih lama lagi. 

Dalam praktek yang kami lakukan, waktu yang tersedia banyak kami habiskan untuk ‘ngobrol’ bersama di lahan. Dari situ kita bisa banyak mendengarkan apa yang dirasakan oleh mereka sebagai pelaku yang lebih dulu menggarap lahan tersebut, dan menempatkan kami pada posisi yang tepat bagi mereka. Kami mengapa itu perlu kami lakukan karena bagaimanapun kami hanyalah pendatang di kebun orang. Bagaimana mana bisa kami membuat sebuah perubahan jika kami tidak mendapatkan restu dari mereka? 

Fiuh! Ini adalah intro yang cukup panjang dari tulisan yang kerap saya buat di website ini. Namun, setidaknya deskripsi di atas dapat menggambarkan sedikit bagainya peran mikroba dalam membantu sedikit demi sedikit mewujudkan visi kami di lahan dampingan kami. Coba ganti kata kami dengan kata mikroba. Yup! Sekeras itukah kerja makhluk yang berumur 1 – 100 micromillimeter ini bekerja untuk memulihkan fungsi lahan untuk tanaman-tanaman yang akan kita tanam. 

Gabaran Perbedaan reaksi akar tanaman pada kedua kondisi tanah yang berbeda.
Sumber: Permaculture Education Center – PermacultureEducation.com

Seperti Halnya kesehatan lahan ditunjukan dari keberagaman tanaman yang dapat tumbuh di area tersebut. Untuk mengindikasikan tanah itu sehat adalah dengan melihat kehidupan dalam tanah. Tanah tempat kita menanam dikatakan sehat apabila keanekaragaman itu muncul di dalam tanah. Beragam biota tanah secara alami dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis. 

  • Microfauna & microflora, yakni binatang maupun tumbuhan yang memiliki ukuran sekitar 1 – 100 mikromilimeter. Misalnya, bakteri, spora jamur, nematoda, protozoa, dan rotifera
  • Mesofauna adalah binatang dengan kisaran ukuran  100 mikromilimeter hinga 2 milimeter. Misalnya, tungau, ekor pegas, lipan kecil, kalajengking cambuk, dan siput kecil 
  • Makrofauna adalah binatang yang berukuran mulai dari 2 – 20 milimeter. Misalnya kutu kayu, harvestman, kelabang, laba-laba, siput, kalajengking 
  • Megafauna adalah binatang yang berukuran di atas 2 milimeter, seperti kelinci.dan tikus tanah

Kami berpegangan pada pedoman bahwa jika kehidupan dibawah tanah masuk dalam kategori seragam dengan beragam makhluk-Nya, maka dia akan kuat untuk menopang kehidupan di atas dengan penghuni berukuran berkali-kali lipat dari ukuran mereka. Ibarat pohon yang kuat berawal dari kesehatan akarnya. 

Semua makhluk hidup menjalankan perannya masing-masing. Sebagian dari fungsi yang dijalankan pastinya muncul untuk mendukung makhluk hidup lainnya. Seperti halnya cacing atau nematoda ada untuk membuat rongga tanah, mereka hidup dari relik organik yang ditinggalkan oleh makhluk hidup yang lebih besar. Sisa mereka makan menjadi sumber tumbuhnya spora jamur dan bakteri yang akan menciptakan kadar keasaman tanah yang tepat bagi semua mahkluk yang hidup di dalam tanah dapat lestari. Ibarat seperti roda, semua sisinya memiliki peran untuk memastikan roda itu terus berputar. Roda itu kita bisa disebut sebagai ‘Kehidupan’.

Author

  • I used to work as a Project Development specialist working with International networks such as CCIVS of UNESCO, NVDA, Africa Network, and Pan America, for more than 5 years. I am a multitasking person. I can be placed in several tasks. As a professional, I work independently as a bilingual writer (EN & ID), graphic designer, website developer, and collaborative freelance researcher. In 2017 I decided to establish my enterprise called Bhumi Horta. Now we have Bhumi Horta Ent or temanberkebun.com, Bhumi Media, and Bhumi Horta Foundation.

    View all posts