Menekan Angka Stunting dengan P2L

Jika kita mengenal KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) pada awal tahun 2015 ketika santer isu urban farming mulai digaung pada tahun itu, kini program ini telah menjelma menjadi P2L (Pekarangan Pangan Lestari) pada tahun ini. Sebagai institusi Dinas Pertanian Kota Semarang melakukan serangkaian sosialisasi terkait dengan pelaksanaan program ini pada tahun ini. Teman Berkebun kembali menjadi bagian dari pelatihan selama tiga hari (27 – 29 Agustus 2024) di dua tempat berbeda yakni di Balai Kelurahan Tlogosari Wetan dan Balai Kelurahan Petompon.

Sany sebagai founder dari Yayasan Bhumi Horta dan Director Teman Berkebun menjadi salah satu pembicara. Kami menjelaskan bagaimana kami bersama mitra bergerak untuk mewujudkan kebun organik di area perkotaan. Bersama dengan kami, hadir juga instruktur dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Jawa Tengah untuk memberikan pengantar mengenai P2L dan bagaimana implementasinya kedepan bersama KWT (Kelompok Wanita Tani) dan KT (Kelompok Tani) yang diundang secara bergiliran di dalam program pelatihan ini.

Beberapa kelompok yang dundang adalah: KWT. Sejahtera dari Kec. Pedurungan, KT. Sekar Wangi dari Kec. Genuk, KWT. Bendungan Serasi dari Kec. Gajahmungkur, KT. Sekartani dari Kec. Gajahmungkur, KT. Gajah Berseri dari Kec. Gajahmungkur, KT. Bumirejo Makmur dari Kec. Gajahmungkur. Masing-masing kelompok memberikan perwakilan sekitar 50 orang untuk menghadari kegiatan ini.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan angka stunting di Kota Semarang. Beberapa KT dan KWT yang diundang adalah berasal dari lokasi dimana angka stunting-nya masing cukup tinggi. Dengan mengadakan kebun pangan di tengah masyarakat diharapkan menjadi lumbung pangan bergisi dan sehat sehingga menekan angka stunting.

Sany dari Teman Berkebun memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan tambahan pengetahuan mengenai microgreen sebagai salah satu sumber nutrisi baik untuk ditanam namun juga mudah dalam perawatannya. Microgreen yang memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar seperti barang bekas hingga tissue yang kerap tersedia di rumah adalah solusi yang kita tawarkan.

Microgreen yang hanya membutuhkan maksimal 14 hari untuk tumbuh dan langsung bisa disantap oleh keluarga. Namun yang perlu digarisbawahi adalah kita perlu memilih benih yang tidak mendapatkan perlakuan pestisida maupun fungisida. Bagi orang sensitif pada zat aktif yang biasanya diaplikasi pada benih pabrikan ini perlu dihindari. Pastikan petani microgreen mencari benih yang murni dari zat aktif tersebut.

Author

  • I used to work as a Project Development specialist working with International networks such as CCIVS of UNESCO, NVDA, Africa Network, and Pan America, for more than 5 years. I am a multitasking person. I can be placed in several tasks. As a professional, I work independently as a bilingual writer (EN & ID), graphic designer, website developer, and collaborative freelance researcher. In 2017 I decided to establish my enterprise called Bhumi Horta. Now we have Bhumi Horta Ent or temanberkebun.com, Bhumi Media, and Bhumi Horta Foundation.

    View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *