Isu stunting belakangan kembali diangkat oleh beberapa pihak di Kota Semarang. Beberapa kalangan mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat bergerak bersama untuk mencegah terjadinya stunting pada balita di sekitar tempat tinggalnya.
Berdasarkan data yang kami pantau melalaui portal https://data.semarangkota.go.id/ menunjukan bahwa cari 84.249 Jumlah Balita Bulan September Tahun 2024 di Kota Semarang, terdata 83.453 jumlah balita yang diukur. Dari besaran balita yang dicek, terdapat 1096 balita yang mengalami stunting 1.31% dari total populasi data yang terlacak.
Itulah yang melatarbelakangi beberapa kelompok masyarakat termasuk PKK dan KWT (Kelompok Wanita Tani) juga getol mencari solusi untuk menekan angka stunting di waktu waktu ke waktu. Karena pada dasarkan balita yang mengalami stunting diakibatkan kekurangan nutrisi penting bagi pertumbungannya dalam waktu yang cukup panjang.

Kami diuntang di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, pada tanggal 3 Oktober 2024. Berdasarkan pemantauan di lapangan terdapat kurang lebih 28 balita di kelurahan ini yang menderita stunting. Sejah wal tahun 2024 KWT Qita Kelurahan Randusari getol mempromosikan microgreen sebagai salah satu solusi sederhanan pelengkap nutrisi bagi anak dan keluarga.
Pak Sany yang bertindah sebagai fasilitator memberikan penjelasan mengenai bagaimana pertanian perkotaan dapat menjadi salah satu solusi untuk penyelesaian permasalahan stunting di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal.
Microgreen adalah sayuran muda yang dipanen saat masih sangat muda, sekitar 7–14 hari setelah disemai dan muncul daun mudanya. Microgreen berasal dari biji-bijian berbagai jenis tanaman. Microgreen dapat dibudidayakan di lahan sempit secara vertikultur (bertingkat) dan tidak membutuhkan radiasi matahari yang terlalu banyak.
Berdasrkan press rilis KKN UGM 2023, Microgreen dapat dijadikan sebagai penambah ataupun pengganti pada menu harian sang anak. Microgreen memiliki nutrisi 4 – 40 kali dari nutrisi sayuran biasa sehingga sangat cocok bagi anak-anak maupun balita dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pertumbuhan dan mencegah terjadinya stunting.
Selain itu fasilitator memberikan trik cara untuk memproduksi microgin yang minim biaya. Dengan memanfaatkan limbah botol plastik yang melimpah di kelurahan ini, setiap rumah dapat memiliki kebun microgreennya sendiri di rumah. Namun Pak Sany juga menambahkan bahwa tidak semua benih bisa digunakan untuk membuat microgreen.
Benih yang mendapatkan perlakukan pestisida atau fungisida tidak diperbolehkan untuk memproduksi microgreen. Karena dikhawatirkan residu dari perlakukan kimiawi tersebut tidak akan hilang pada usia tanaman kurang dari 2 minggu. Untuk itu perlu pentingnya teliti dalam memilih benih dan melibatkan kami dalam konsultasi agar masyarakat tidak salah memilih benih kertika mereka mencoba berkebun microgreen di rumah mereka masing-masing.
Karena teknik yang diperkenalkan ini tidak membutuhkan lahan yang luas, diharapkan dari informasi tentang microgreen yang didapat oleh peserta dapat dipraktekan di lingkungan hingga rumah masing-masing. Teman Berkebun bakal hadir sebagai pendamping mereka untuk menjawab pertanyaan seputar perihal microgreen dan permasalahan apa saja yang nanti bakal ditemua seiring waktu berjalan.