Optimalisasi Lahan untuk Pertanian Mandiri

Dimasa sekarang berkebun bukan lagi masalah besar bagi masyarakat perkotaan. Konsep urban farming memungkinkan memanfaatkan ruang atau lahan terbatas untuk berkebun dan menjadikannya aktivitas menyenangkan dan bermanfaat. Pada Senin, 27 Januari 2025 Teman Berkebun bersama tim mahasiswa Fakultas Peternakan dan Peternakan, Universitas Diponegoro  melaksanakan sesi berkebun yang berfokus pada praktik berkebun dengan sistem permakultur. Permakultur merupakan jenis pertanian yang membutuhkan proses desain tertentu untuk menjadikan sistem pertanian  lebih berkelanjutan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas tanah, pengelolaan air yang efisien, dan mengelola limbah rumah tangga atau organik menjadi kompos yang kaya nutrisi.

Berlokasi di Kebun Qita Jl. Kyai Saleh No.13, Randusari, Kec. Semarang, praktik berkebun dimulai dengan pembuatan batas bedengan memanfaatkan ranting pohon yang dianyam mengelilingi bedengan. Bedengan yang sudah dibuat berisi beberapa jenis tanaman seperti tomat (Solanum lycopersicum) dan timun (Cucumis sativus) yang kemudian dipasangkan ajir untuk menopang batang dan buah serta mencegah dari kerusakan akibat angin atau berat buah yang berlebih. Pada praktik berkebun kali ini, dilakukan pindah tanam tanaman kemangi (Ocimum basilicum). Tanaman tersebut disemprot POC (pupuk organik cair) supaya mendapatkan nutrisi yang cukup, dan dibantu dengan adanya parit kompos pada bedengan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengelola limbah organik. 

Kegiatan berkebun ditutup dengan penjelasan sederhana mengenai HPP (Harga Pokok Produksi) pada produk pertanian yang disampaikan oleh mbak Ariva. Penjelasan tersebut menyoroti pentingnya memahami dan mengelola biaya produksi pertanian untuk mencapai keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan petani.

Pustaka :

Misni, A., Zaki, M. A. M., & Latif, F. A. A. (2014). Pendekatan permakultur bagi mewujudkan gunatanah pertanian lestari di Malaysia: Kajian kes di Kuala Ping, Terengganu. Malaysian Journal of Society and Space, 10(6), 105–117.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *