Selasa 24 Juni 2025, kelompok magang kami mengikuti kegiatan berkebun bersama komunitas Teman Berkebun. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar langsung mengenai cara menanam dan merawat tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) dengan pendekatan permakultur. Suasana kebun yang terbuka, sejuk, dan tenang membuat proses belajar terasa menyenangkan dan menenangkan.
Di sesi hari ini, kami melakukan pemangkasan cabang dan ranting tanaman tomat yang sudah layu atau mengering. Tujuannya agar tanaman tetap sehat dan mendukung pertumbuhan bagian yang masih produktif. Setelah itu, kami mengikat batang tomat yang mulai menjalar ke penyangga atau ajir. Proses ini disebut staking atau trellising. Fungsi dari proses staking tersebut adalah agar tanaman dapat tumbuh tegak ke atas, tidak menyentuh tanah, dan lebih mudah mendapatkan cahaya matahari serta udara segar.
Kami juga diperkenalkan dengan sistem budidaya bernama permakultur. Permakultur adalah cara bertani atau berkebun yang meniru cara kerja alam. Sistem ini tidak merusak tanah, tidak bergantung pada bahan kimia, serta memanfaatkan hubungan alami antar tanaman, hewan, dan manusia. Tujuannya agar kebun dapat terus menghasilkan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Sistem permakultur menekankan pentingnya menjaga tanah tetap sehat dan subur. Salah satu praktik yang digunakan adalah menutup permukaan tanah dengan mulsa alami seperti daun kering, jerami, atau potongan rumput. Mulsa berfungsi untuk mempertahankan kelembapan, menekan pertumbuhan gulma, serta mendukung kehidupan mikroorganisme yang membantu perkembangan akar tanaman. Tanaman tomat sebaiknya ditanam pada tanah yang memiliki kedalaman sekitar 30 – 40 cm agar akarnya dapat tumbuh kuat dan menyerap nutrisi secara optimal. Selain itu, tanah juga harus gembur, tidak mudah tergenang air, dan kaya akan bahan organik seperti kompos atau pupuk alami agar mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Menanam tomat ternyata tidak dapat sembarangan dicampur dengan tanaman lain. Kami baru tahu kalau tomat termasuk tanaman yang “egois”. Tanaman ini mengeluarkan zat kimia yang disebut alelopati, yaitu zat yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Sifat ini membuat tomat mirip seperti gulma karena dapat mempengaruhi lingkungan tumbuh di sekitarnya.
Beberapa tanaman yang cocok ditanam bersama tomat antara lain kemangi, bawang putih, wortel, bunga marigold, dan murbei. Tanaman-tanaman ini dapat membantu tomat tumbuh lebih sehat, baik dengan mengusir hama secara alami maupun menarik serangga baik yang membantu penyerbukan. Murbei memiliki kemampuan menarik serangga predator seperti laba-laba dan kepik yang dapat membantu mengendalikan hama pada tanaman tomat. Selain itu, murbei juga tidak bersaing langsung dengan tomat dalam hal kebutuhan nutrisi dan ruang akar sehingga cocok dijadikan tanaman pendamping. Sebaliknya, beberapa tanaman seperti kentang, kol, dan terong sebaiknya dihindari karena dapat bersaing memperebutkan nutrisi atau menularkan penyakit yang sama dengan tomat.
Melalui kegiatan ini, kami menyadari bahwa berkebun bukan sekadar menanam dan memanen hasil. Ada proses yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kami belajar bahwa merawat tanaman secara alami berarti juga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Pendekatan permakultur mengajarkan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan alam, bukan hanya mengambil tetapi juga merawat agar alam terus memberi manfaat secara berkelanjutan.
Sumber:
Kolo, M. M. 2015. Ekstrak alelopati organ tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) terhadap pertumbuhan sawi (Brassia chinensis L.). Jurnal Pertanian Pendidikan Biologi, 2(1) : 15-16.
Suwarno, R. N. 2024. Strategi ketahanan pangan dari basis lokal: integrasi prinsip permakultur dalam teknologi pangan yang berkelanjutan. Indonesian Journal of Applied Science and Technology, 5(2): 52 – 66.