Terima Kasih “Seribu Bayang Purnama”,Kini Kami Sadar Kami Tidak Sendiri

Tidak banyak film populer yang mengangkat isu di dunia pertanian. Namun kami sangat mengapresiasi upaya dari sutradara, Yahdi Jamhur dalam film yang berjudul “Seribu Bayang Purnama” mengeksekusinya dengan sangat apik. Sebagai penggiat praktek pertanian ramah lingkungan yang berdiri pada tahun 2017, kami merasakan perjauangan semua kru yang terlibat dalam film untuk menangkap semua momen yang memak benar pernah kami alami di lapangan dibalut dengan drama yang tidak terlalu ‘overdosis’.

Kami bukan ahli dalam mengomentari sebuah karya layar lebar apalagi meberikan ulasan mendetail mengenai hal tersebut. Kami hanyalah sekelompok penggiat pertanian yang menerapkan prinsip – prinsip permakultur di tengah kepungan pembangunan di Kota Semarang dan sekitarnya. Tulisan ini adalah bentuk salah satu penghargaan kami untuk semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film ini.

Di awal film ini diputar, adegan sudah mampu membuat kami tertegun, berhasil memutar kembali memor-memori yang perh kami alami. Semakin dalam film tersebut diputar kami merasa film tersebut memutar semua adegan yang pernah kami lakukan dan alami sejak tahun 2017. Jelas ini merupakan film fiksi yang dibuat oleh tangan – tangan kreatif penulis skrip film ini. Namun, kami dibuat kagum akan detil yang ditampilkan yang membuat kami seperti berkaca pada diri sendiri.

Pertanian di negeri ini dengan segudang masalah yang belum pernah terpecahkan dicoba disajikan dalam bentuk apik dan bingkai drama yang tidak berlebih namun tetap memberikan nuansa lokal yang sangat kental. Sudah tidak dapat disangkal bila petani Indonesia jauh dari keadaan yang ideal. Mulai dari hubungan relasi patron klien yang tidak dapat dielakan bila petani terus terjerembab ke dalam jurang yang semakin dalam.

Ada poin – poin yang menarik ditampilkan dalam film ini. Namun saya tidak akan mendetilkannya karna saya berharap anda akan hadir secara langsung untuk menjadi saksi hidup para senias film mengangkat tema pertanian di tengah gempuran film horor, dan romansa perselingkuhan. Poin-poin yang kami tangkap adalah: bagaimana petani di pedesaan berjuang di tengah binis pertanian yang seperti di anak tirikan namun terus diperah hasilnya untuk kepentingan negeri ini, jeratan kemiskinan, pentingnya peran generasi muda dalam bidang pertanian, semangat belajar yang perlu ditanamkan oleh petani muda serta membangun SDM berkualitas untuk dunia pertanian yang lebih baik di masa mendatang.

Kami selalu organisasi yang berjalan sejak 2017 telah terus mengupayakan perubahan pertanian indonsia yang lebih mensejahterakan petani dengan terus mengedepankan misi-misi penyelaman lingkungan melalui pendekatan prinsip prinsip permakultur. Dan kami sangat menyarankan kawan-kawan untuk berbondong-bondong menonton film ini. Dengan ini kita berharap akan banyak lagi pihak – pihak yang tidak ragu mengangkat isu-isu bidang pertanian di masa yang akan datang. Amiin…,

Author

  • I used to work as a Project Development specialist working with International networks such as CCIVS of UNESCO, NVDA, Africa Network, and Pan America, for more than 5 years. I am a multitasking person. I can be placed in several tasks. As a professional, I work independently as a bilingual writer (EN & ID), graphic designer, website developer, and collaborative freelance researcher. In 2017 I decided to establish my enterprise called Bhumi Horta. Now we have Bhumi Horta Ent or temanberkebun.com, Bhumi Media, and Bhumi Horta Foundation.

    View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *