Tulisan ini juga di publikasi di https://lokawarta.com/ pada tanggal 25 Juli 2025
SAMBIL duduk di teras, memandang hijaunya daun yang disapu lembut oleh angin semilir, diantara pepohonan yang tumbuh di halaman. Mulai dari pohon asem, mangga, philisium, pohon bunga Sakura Jawa sampai pohon ketepeng perak bersusun yang konon berasal dari zaman Majapahit mewujudkan suasana adem.
Selain itu masih ada beraneka tanaman hias dalam pot berjejer rapi di atas balustrade batu yang kokoh, dilengkapi tanaman anggrek, bunga Wijaya Kusuma yang selalu saya nanti mekarnya menyebarkan aroma wangi yang eksotis dan magis. Bunga Telang berwarna biru ungu merambat di pagar di sela sela pohon pucuk merah menjadi kombinasi harmonis yang sedap dipandang mata.
Mencintai alam semesta beserta isinya harus dimulai sejak dini, berawal dari rumah kemudian dilanjutkan ke lingkungan pendidikan formal maupun lingkungan sosialnya. Konsep tersebut telah diterapkan Daqu School bermitra dengan Yayasan Cendekia Lestari Semarang. Di tahun ajaran 2024/2025 melalui Pentas Seni Kelompok Bermain dan Taman Kanak Kanak.
Celotehan puluhan bocil sudah terdengar meriah di pagi cerah sejak jam 6.00 di hari Sabtu 14 Juni. Lagu lagu religi diselingi lagu lagu nasional bernafaskan kebangsaan/ perjuangan menggema memenuhi udara di pagi itu.
Adapun tema yang diambil dalam rangka akhirulssanah adalah “Go Green”, yakni menjaga, melindungi dan merawat alam sesuai konsep “MEMAYU HAYUNING BAWANA”.
Penampilan anak anak dalam gerak dan lagu yang diciptakan oleh para guru yang biasa dipanggil miss, sangat mewarnai panggung dengan hiasan aneka warna balon yang meriah sebagai latar belakangnya. Spontanitas yang menunjukkan kekocakan, kenakalan dan kelincahan di tingkah oleh kejailan yang orisinal justru menebar kesejukan di hati para orang tua dan undangan yang hadir
Daqu School mengharapkan apa yang digelar dapat membantu para orang tua di dalam mendidik putra putrinya mencintai alam semesta dengan benar.
Kecintaan pada alam semesta diperlihatkan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia, misalnya orang Bali selalu meletakkan sesaji di bawah pohon pohon besar untuk mengingatkan bahwa penunggu pohon juga perlu dirawat.
Demikian juga dalam pemahaman kultur Jawa sebagaimana di uraikan oleh Iman Budhi Santoso dalam buku Spiritualisme Jawa, kedekatan orang Jawa dengan alam tumbuhan yang disebut dengan “tuwuhan” yang berarti tumbuh, timbul, terbit, turun dan keturunan.
Saking cintanya, banyak desa di daerah Jateng diberi nama sesuai tanaman. Diantaranya Jatinom, Kedungjati, Nangkajajar, Cepakamulya, Pringsurat, Pelemsewu, Sawojajar, dan sebagainya.
Sebagaimana diketahui obat obatan tradisional juga banyak berasal dari tuwuhan tersebut. Kita mengenal apa yang disebut dengan empon empon meliputi temu lawak, temu giring, jahe , kunir, kencur. Bahkan pabrik jamu modern Sido Muncul memiliki kebun bibit empon empon yang merupakan bahan baku produknya.
Pada setiap pagelaran wayang kulit, kita selalu melihat apa yang disebut dengan “gunungan” atau kayon yang merupakan simbolisasi dari keadaan flora dan fauna yang ada di jagad ini.
Selama ini dikenal ada dua jenis gunungan yaitu jenis blumbangan dan jenis gapuran dimana terdapat pohon Dewandaru atau Kalpataru sebagai “pohon kehidupan”. Kalpataru ini dapat dilihat di relief candi Borobudur.
Apabila pagelaran akan dimulai, maka Sang Dalang akan mencabut gunungan tersebut agar manusia meneladani dan bertindak selaras dengan alam yang tidak memiliki pamrih apapun kecuali melayani sesama makhluk hidup.
Nampaknya dalam hal ini langkah yang lebih konkrit telah diprakarsai oleh Kebun Qita dengan memanfaatkan kebun di halaman depan untuk ajang kegiatan anak anak, remaja serta para ibu PKK yang ingin belajar memahami secara praktis mengenai “urban farming” yang digalakkan oleh Pemerintah Kota Semarang.
Selanjutnya menurut Arina Molitha, pemilik Kebun Qita yang berlokasi di Jalan Kyai Saleh, pada hakekatnya ingin mendekatkan anak dengan alam. Karena anak anak zaman now terlihat lebih akrab dengan bermain gadget dan kurang akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Sehingga cenderung tumbuh menjadi orang yang individualistis dan egoistis.
Dibantu oleh instruktur mas Tsani dan mbak Ifa, mereka belajar berkebun, bercocok tanam , membuat kompos dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan dunia anak anak Selama proses belajar berkebun, anak anak juga diberi informasi nama nama sayuran, mulai dari bayam brasil, terong, tomat, wortel sampai cabe merah.
Lain daripada itu, mereka juga belajar menanam tanaman di dalam pot yang tanahnya sudah gembur di antaranya bibit slederi, daun mint, rosemarie. Agar suasana menjadi lebih akrab dan saling kenal, anak anak juga diajak bernyanyi lagu lagu gembira. Kadang kadang mereka juga dikenalkan pada permainan tradisional antara lain dakon, tangga bersayap/ zondag mandag, congklak .
Keaneka ragaman makanan khas Jateng sebut saja, nagasari, centhik manis, klepon, onde onde, juga memperkaya pengetahuan anak anak. Jangan sampai mereka hanya kenal makanan junk food yang tidak sehat macam hamburger, hot dog, fried chicken, karena mengandung banyak lemak.
Anak anak juga diajarkan mengenai recycling yaitu merubah barang bekas menjadi barang bermanfaat, ketrampilan melipat kertas atau handicraft dan belajar hidup sehat, contohnya cara mencuci tangan yang benar.
Apa yang sudah dilakukan memang masih jauh dari sempurna, banyak hal harus di pelajari demi meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan kognitif sesuai dengan tuntutan zaman. Belajar sepanjang hayat, membuat kita sehat serta memiliki wawasan luas mencakup lokal, nasional maupun global.
Penulis mengakhiri tulisan ini dengan mengutip sepenggal lirik lagu indah ciptaan Ismail Marzuki bertajuk Rayuan Pulau Kelapa sebagai berikut :
Tanah airku Indonesia,
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala…..
Semarang 25 Juli 2025
Tulisan ini juga di publikasi di https://lokawarta.com/ pada tanggal 25 Juli 2025