WANODYA ING ALAGA

Peran Perempuan Memperjuangkan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan Ekonomi )*

)* Ditulis Oleh Oerip Lestari  dalam rangka “Kongres  Nasional Sarjana Ekonomi  Indonesia/ ISEI/ PIISEI 2024”

Sudah sewajarnya bilamana perempuan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk membangun negeri ini. Apalagi kalau dilihat dari segi kuantitas sangat signifikan, 51% dari penduduk Indonesia adalah perempuan, sementara sisanya 49% merupakan laki-laki. Namun demikian, dalam usianya yang ke 79 tahun Negara masih belum sepenuhnya memberi kesempatan pada perempuan untuk berkiprah secara riil. Jabatan-jabatan publik masih didominasi oleh kaum laki-laki, baik di eksekutif, legislatif  maupun yudikatif.

Itulah salah satu pertimbangan penulis untuk mengetengahkan kendala serta kemajuan yang telah dicapai perempuan pada umumnya. Terutama di bidang ekonomi, kebijakan Pemerintah untuk mendorong UMKM patut diapresiasi dan didukung oleh banyak pihak.

Sebagai contoh, penyaluran KUR (Kredit Usaha Kecil) perlu digenjot, supaya para perempuan pelaku UMKM makin terbantu sehingga profesionalitasnya terjaga dengan baik di seluruh Indonesia.

Profesionalisme akan tercapai melalui proses yang terencana, prudent dan bertahap, bukan sesuatu capaian yang bersifat instan dan pragmatis. Bangkitlah perempuan Indonesia, kontribusimu bagi NKRI senantiasa dinantikan oleh semua lapisan masyarakat.

Pendahuluan

Judul dari tulisan ini berbahasa Jawa karena terasa tepat untuk menunjukkan bahwa perempuan sedang berjuang  untuk ikut mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkeadilan serta sejahtera di negeri ini (Bahasa Jawa, Wanodya artinya Perempuan, Alaga artinya medan “perang “)

Pada hakekatnya kiprah perempuan belum bisa optimal, disebabkan oleh peran gendernya di ranah domestik maupun publik. Dengan demikian masalah Gender, yang merupakan “konstruksi sosial dan kultural (bukan kodrat),” menjadi pertimbangan saat membahas peran perempuan dalam pembangunan ekonomi.

Secara umum dapat diartikan, ada jenis pekerjaan yang dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak selalu pekerjaan domestik harus dikerjakan perempuan, laki-laki pun dapat membersihkan rumah, memandikan anak, atau bahkan memasak.

Haruslah diakui  gerak langkah perempuan tidak sebebas laki-laki, apalagi adanya stereotipe (pelabelan) yang senantiasa melekat pada diri perempuan. Adanya Revolusi Hijau yang menitik beratkan pada swasembada pangan, justru menjadi pemicu pemiskinan  terhadap perempuan.

Di daerah-daerah pedesaan, potensi petani perempuan yang memakai alat pemotong rumput bernama ani ani,  kemudian digantikan oleh petani laki–laki yang memakai sabit, mengakibatkan para perempuan tersingkirkan dan termarjinalkan.

Gambaran-gambaran diatas, hanyalah masalah sederhana yang masih saja belum sirna di era digital saat ini.

Apabila Pemerintah memang serius untuk mendorong perempuan dalam perekonomian bangsa ini, maka afirmasi (afirmation action) atas kaum perempuan harus dilakukan dengan lebih mantap.

Pergeseran Posisi

Bagan 1: Pergeseran Posisi Peran Perempuan di Masyarakat

Selanjutnya  agar di setiap analisis ekonomi diberi sentuhan yang perspektif gender, dalam arti tidak terjadi diskriminasi terhadap perempuan yang sedang menjalankan perannya di ranah publik.

Statistik mengatakan bahwa  51% penduduk Indonesia (tidak terkecuali Jawa Tengah adalah perempuan). Artinya kontribusi perempuan bisa sebanding dengan laki-laki manakala perempuan memiliki kemampuan dan kesempatan yang setara juga.

Menurut BPS 2023, partisipasi Angkatan kerja perempuan sebesar 54,4% sedangkan partisipasi Angkatan kerja laki-laki mencapai 83,98%. 

Hanya kondisi perempuan masih jauh dari menggembirakan bahkan cenderung memprihatinkan. Berbagai kendala membayangi hidupnya mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi lapangan pekerjaan sehingga kekerasan verbal, fisik serta seksual.

Lepas dari itu, penting diketahui bahwa perempuan harus dapat memainkan perannya dengan baik di ranah domestik (jagad cilik)  maupun sebagai warga negara di ranah publik. Keseimbangan inilah yang harus bisa diwujudkan sendiri atau dibantu oleh partisipasi lingkungannya.

Perempuan merupakan kelompok strategis, terutama bila dilihat dari segi kuantitas, kita memang sudah memasuki apa yang disebut dengan era digitalisasi yang terdengar sangat bergengsi dan modern

Dari segi pendidikan pun perempuan Indonesia belum sesuai harapan kita semua. Di tingkat ASEAN, tingkat pendidikan perempuan Indonesia jauh tertinggal, hanya sekitar 40% berpendidikan SMP, 15% di tingkat SMA dan kurang dari 10% lulus perguruan tinggi.

Bisa dibayangkan dengan struktur tersebut, perempuan harus bersaing dengan laki-laki apabila tidak ada afirmasi dari pemerintah. Mempromosikan status perempuan tidaklah mudah, satu kaki berada  di ruang domestik, sementara kaki lainnya menginjak ranah publik. Tentunya harus memiliki daya keseimbangan yang luar biasa agar peran gandanya harmonis

Ibaratnya, sosok perempuan berpredikat sebagai menteri multi dimensi, sebut saja menteri pendidikan, menteri kesehatan, menteri keuangan, menteri dalam negeri, menteri lingkungan hidup dan menteri kebudayaan.Perempuan harus mampu menahan diri melawan perilaku konsumtif, hedonisme, pragmatisme yang pada ujungnya adalah Korupsi.

Bisa dilihat di lapangan banyak perempuan yang dapat memicu penyelewengan keuangan, karena melihat perempuan tetangganya, dapat membeli perhiasan-perhiasan serta barang-barang branded  yang tentu harganya tidak murah. Sedangkan dia tidak memiliki keleluasaan finansial. Berangkat dari perilaku iri maupun konsumtif inilah yang menjadi penyebab tindakan korupsi.

Kalau laki-laki adalah kepala rumah tangga sekaligus pencari nafkah demi keberlanjutan kehidupan keluarga, maka perempuan hanyalah “pekerja rumahan murah” yang tidak perlu memiliki kepandaian memadai. Ideologi keibuan (motherhood ideology) yang dikembangkan orde baru makin memperkuat domestifikasi perempuan. Apalagi kemudian Pemerintah merestuinya melalui kebijakannya yang sarat dengan nilai-nilai patriarki.

Banyak produk hukum dan perundang-undangan yang diskriminatif, tidak setara dan tidak gender sensitif, misalnya seorang istri diwajibkan memperoleh izin suami apabila mau bepergian ke luar negeri. Sementara seorang laki-laki/suami bebas, tidak memerlukan izin istrinya. Meski kesetaraan gender sudah di gembar gemborkan sejak lama, namun realitanya masih mengalami proses yang cukup panjang.

Pada hakikatnya, yang menjadi perhatian sentral kita semua adalah posisi perempuan di ruang publik dengan segala hak, martabat dan integritasnya. Upaya tersebut harus dipecahkan bersama antara laki-laki dan perempuan. Justru yang perlu diciptakan adalah harmonisasi, tidak saling menindas, saling memperkuat kedudukan masing-masing sesuai dengan kodratnya.

Sebab siapa saja yang melanggar kodrat alam niscaya akan diremuk oleh alam itu sendiri (Bung Karno, dalam SARINAH, hal 15) Pernyataan tersebut dikuatkan oleh seorang filsuf bernama Baba O’illah yang menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai “dua sayap seekor burung ” Jika dua sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara setinggi2nya. Jika salah satu sayapnya patah, maka burung  tidak akan dapat terbang

Untuk mewujudkan eksistensinya, perempuan berjuang sejak lama dan sebenarnya Negara juga telah memberikan jaminan yang sama bagi perempuan untuk berpartisipasi di bidang politik diantaranya dengan meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang hak-hak perempuan dalam politik 1952, dengan Undang-Undang No.68 tahun 1956 dan Undang-undang No.7 tahun 1984 yang meratifikasi Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW/Convention on the Elimination of All Form of Discrimination against Women).

Pepatah Inggris menyatakan: “Man works from rise to set of sun, woman works is never done”. Jalan memang masih panjang dan berliku, pekerjaan apapun memerlukan perjuangan, keuletan serta kesabaran.   

Untuk memperoleh gambaran yang lebih konkrit dari perempuan yang berkiprah di sektor ekonomi, Penulis mencoba mengetengahkan 3 (tiga) studi kasus di kota Semarang, Jawa Tengah  yakni: Koperasi Nuansa Mandiri yang merupakan koperasi perempuan  dari para bakul/pedagang di pasar tradisional Peterongan, Penjual pecel  di sebuah warung sederhana yang mapan di kawasan elit Candi Baru (tepatnya di depan RS Elisabeth), dan Pengusaha kerajinan tas berkelas internasional, dengan bernama “Roro Kenès”, berlokasi di perbukitan Bukit Sari di tengah pemukiman elit yang indah.

Dari ketiga pelaku bisnis tersebut, dua perempuan muda yang menanganinya  mengenyam pendidikan tinggi (D3 STIKUBANK Semarang dan Sarjana Hukum Undip), sedangkan mbak Tunggal si penjual pecel hanyalah lulusan Sekolah Dasar Sluntang 2 Musuk, sebuah desa kecil dilereng gunung Merapi, Kabupaten Boyolali.

Alur Pikir

Agar lebih mudah memahami tentang tujuan membangun negara, diagram dibawah ini menyajikan keterkaitan antara ketidakadilan dan kesejahteraan  yang selama ini membelenggu rakyat Indonesia sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945

Bagan 2: Keterkaitan antara Ketidakadilan dan Kesejahteraan

Perjalanan panjang sejarah bangsa dengan segala rintangan telah mewarnai proses menuju  masyarakat adil makmur sebagaimana digagas oleh para founding fathers.

Ketidakadilan yang meliputi politik, ekonomi, hukum dan sosial sudah berlangsung lama tetapi tidak kunjung memperoleh solusi yang terbaik. Ketidakadilan menimbulkan kelompok termarjinalkan dan ujungnya menimbulkan kemarahan yang disebut dengan social outrage (Sunardi, 2025:44).

Selanjutnya kemarahan massa dapat berkembang  menjadi disintegrasi, yang pastinya akan mengganggu keutuhan NKRI. 

Tidak perlu dipungkiri keadilan politik, ekonomi, hukum, sosial belum hadir dan dinikmati rakyat.

Banyak contoh yang kita lihat dalam kenyataan sehari-hari, meski sudah diperjuangkan cukup lama tetapi kuota keterwakilan perempuan 30% di ranah politik belum terwujud sepenuhnya.

Keadaan tersebut membuktikan sekaligus mengindikasikan bahwa sistem dan kultur di masyarakat belum sepenuhnya diarahkan untuk mendukungnya. Padahal keadilan dan kesetaraan gender bisa terwujud manakala sistem dan kultur ikut terkait di dalamnya. Ketidakadilan di bidang ekonomi akan penulis uraikan dalam studi kasus berikutnya.

Keadilan hukum dan sosial masih berjalan tertatih-tatih, sementara penyelesaian kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak masih jauh dari menggembirakan. Keadilan sosial tampak membayangi kehidupan masyarakat secara lebih pekat.

Seseorang disebut sejahtera apabila kebutuhan dasarnya (basic needs) terpenuhi sebaik-baiknya. Adapun kebutuhan dasar tersebut meliputi Sandang, Pangan, Papan, Pendidikan dan Kesehatan disingkat SP3Kes belum merata di seluruh persada Nusantara. Pemerintah harus hadir untuk membantu dan memberi solusi tanpa diskriminasi maupun rekayasa yang merugikan masyarakat.

Hasil Penelitian

Pada hakikatnya perempuan membutuhkan keleluasaan dan ruang gerak yang cukup untuk dapat berekspresi dengan bebas tanpa tekanan dan intimidasi. Pada kesempatan ini penulis ingin berbagi cerita tentang tiga orang perempuan yang mengejar dan  mengisi kebebasannya melalui karyanya yang genuine meski sederhana. Semula mereka sendiri tidak pernah membayangkan bahwa keberaniannya telah berhasil menembus tembok tantangan yang menghadang.

Kisah Pertama

Perempuan muda mungil berusia menjelang 47 tahun yang biasa akrab dipanggil mbak Nining atau nama lengkapnya Tri Kristianingsih. Berbekal ijazah D3 Stikubank, Semarang dia melangkah mantap menapaki jalan menuju sukses yang berliku. Sebagai wong Semarang asli, membuatnya memahami secara utuh watak, perilaku, habit lingkungannya yang sederhana di daerah Tegalsari, Kecamatan Candisari.

Dibesarkan dari keluarga yang harmonis (pensiunan pegawai negeri), sebagai anak ketiga perempuan terbiasa bekerja membantu ibunya dengan menggarap kerja-kerja rumahan layaknya perempuan. Keluwesannya bergaul dengan lingkungannya dan kesabarannya menyerap obrolan teman-teman seumuran, membuat mbak Ning menjadi leader di berbagai kegiatan.

Dukungan penuh dari seorang suami yang juga seorang aktivis kampus (mas Iwan) serta seluruh keluarga akhirnya memicu adrenalinnya menggagas sebuah kegiatan yang secara ekonomi menguntungkan bagi anggotanya.

Tidak puas hanya menghasilkan bed cover, seprei dan rempeyek saja, dia mulai bergabung dengan sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dibidang KB (Keluarga Berencana) dan kesehatan reproduksi perempuan. Perannya adalah sebagai motivator sekaligus mendampingi perempuan-perempuan  yang mengalami masalah kesehatannya. Berkat kegigihannya mbak Ning sering mengikuti berbagai seminar yang juga membuka bazar sebagai pelengkapnya.

Kemampuannya dalam berbicara dengan banyak orang makin terasah, sehingga mampu membangun jaringan dengan banyak pihak. Beranjak dari kebiasaan “ngerumpi,” mulai terpikir untuk menggalang kebersamaan perempuan, menjadi kegiatan ekonomi produktif

Dari sekedar hobby  atau sambilan mulai berkembang  ke arah kegiatan yang menghasilkan uang walaupun tidak seberapa, sudah cukup membuat hati berbunga-bunga. Semangat makin menggebu, percaya diri mulai tumbuh, kreativitas meningkat. Yang pada akhirnya berani memasuki ruang interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi yang terbuka

Menurut mbak Nining, upaya paling efektif di dalam menjalin bisnis diantaranya adalah mengikuti pameran/bazar  baik di dalam maupun diluar kota sendiri. Misalnya pameran kerajinan di Lawang Sewu,  di kampus Unika Soegijapranata bahkan mengikuti bazar keuangan mikro di kota Sala/Solo.

Tujuannya untuk membangun kepercayaan diri dari sebuah komunitas yang kemudian bernama Kelompok Perempuan Produktif Nuansa Mandiri. Selanjutnya agar lebih mantap sebagai organisasi.maka sebagai Badan Hukum no: 18008/ BH/XIV.34/18 tanggal 12 Januari 2008 resmi beroperasi.

Dengan bermodalkan awal sebesar Rp 20 juta dari 25 orang perempuan, maka kegiatan dimulai dari simpan pinjam bagi anggotanya. Sejak itu Koperasi mulai tumbuh setapak demi setapak berkat ketekunan seluruh anggotanya. Sudah barang tentu Koperasi tidak selalu berjalan mulus, ada kredit macet ada badai Covid-19 yang sempat melumpuhkan sendi perekonomian secara nasional. Berdasarkan kesepakatan, kendala berhasil diatasi secara bersama-sama dengan gigih. Adapun solusinya ialah penyelesaian berdasarkan pendekatan kekeluargaan dan mencadangkan SHU ( Sisa Hasil Usaha)

Gambaran perkembangannya sebagai berikut:

Tahun 2005 masih berstatus Pra Koperasi bermodal Rp 14.989.500 dengan anggota sebanyak 34 orang. Kemudian pada tahun 2023, dengan sistem simpan pinjam mencapai modal menyentuh angka Rp 431 122 500. Anggotanya juga meningkat menjadi 192 orang. Prestasi seorang perempuan ibu rumah tangga, wajib diapresiasi agar tampil lebih nyata di dalam pengabdiannya untuk melayani akar rumput (grass roots).

Supaya lebih jelas, dapat diamati perkembangan koperasi dari tahun ke tahun melalui tabel di bawah ini. 

Perkembangan Aset KPNM (Koperasi Perempuan Nuansa Mandiri) 

No Tahun Jumlah 
12008Rp 50.630.198
22009Rp 63.697.732
32010Rp 136.014.025
42011Rp 129.978.328
52012Rp 122.947.845
62013Rp 124.598.125
72014Rp 163.701.699
82015Rp 182.666.554
92016Rp 219.227.357
102017Rp 262.869.105
112018Rp 339.357.306
122019Rp 376.022.027
132020Rp 320.177.357
142021Rp 333.672.511
152022Rp 407.118.594
162023Rp 431.122.500

Sumber: Koperasi Nuansa Mandiri 2024

Pada saat karirnya semakin menanjak, datang ujian dari Allah SWT menghampiri keluarga inti mbak Nining. Putri sulungnya bernama Lintang yang cantik dengan mata bening, divonis dokter mengidap disleksia (umurnya saat itu sekitar 4 tahun).

Dengan berlinang air mata, mbak Ning bercerita kekurangan Lintang baru diketahui karena ada sesuatu yang aneh. Pada umumnya anak seusia Lintang yang normal sudah criwis, gemar menyanyi dan bercanda.

Ciri-ciri tersebut tidak dialami oleh Lintang, ketika mendengar vonis dokter hati  ibu mana yang tidak terluka. Pengertian keluarga yang mendukung penuh, akhirnya mbak Nining dapat menerima kenyataan pahit tersebut dengan jiwa besar.

Keteguhan hati dilambari semangat yang tiada pernah padam mbak Ning berhasil membawa Lintang dalam kehidupan normal seperti anak-anak lain. Kepiawaiannya membagi waktu sungguh luar biasa, memimpin koperasi dan mendampingi anak berkebutuhan khusus bukan kerja yang mudah

Sambil menerawang jauh, ketika menghadapi realita bahwa buah hatinya sulit berkomunikasi selain ibunya, tersembul kadang-kadang keputusasaan. Sulit beradaptasi dengan lingkungan itu sudah pasti. Mungkin tidak terbayangkan, setiap hari menangis mengantar anaknya sekolah selama 5 tahun yang mencengkam

Masa-masa sulit sudah berlalu, sinar kebahagiaan mulai terasa karena Lintang berhasil lolos menjadi mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa Prancis  UNNES. Saat ini di usianya yang ke-21 , Lintang sedang menjalani KKN di kabupaten Demak, yang artinya sebentar lagi akan diwisuda sebagai seorang Sarjana.

Sang Pencipta memang Maha Adil, kejutan diterima oleh mbak Nining di tahun 2014. Berkat diajukan oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jawa Tengah, sebuah LSM yang bergerak di bidang Keluarga Berencana untuk memperoleh  Indihome KARTINI Award karena kiprahnya di masyarakat yang positif. 

Tampillah mbak Ning sebagai salah satu dari 21 nominee yang berhak mendapat penghargaan bersama perempuan-perempuan lain dari seluruh Indonesia. Dia berhasil mengalahkan sekitar 200 orang yang dinominasikan, suatu effort yang luar biasa.

Hadiah 10 juta yang diterimanya akan dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagaimana yang selalu dilakukannya. Cita-cita dan harapannya sederhana saja, yakni membawa Koperasinya di tingkat yang lebih baik dan memberi pelayanan yang maksimal pada perempuan akar rumput yang membutuhkan bantuan

Pegawai yang selalu setia membantunya dalam susah dan senang (2 orang ibu muda) dapat digajinya sesuai dengan UMR. Meski sudah menerima BPJS Ketenagakerjaan sesuai ketentuan Pemerintah. Tetaplah bangkit dan berjuang membangun negeri. 

Gambar 1: Aktifitas mbak Nining di Koperasi Nuansa Mandiri

Kisah Kedua 

Pada awalnya penulis gamang untuk mewawancarai mbak Tunggal yang berusia 46 tahun 8 bulan, perempuan sederhana dan polos, asli Boyolali. Lebih dahulu saya harus memberi penjelasan maksud dan tujuannya, agar informasi mengalir dengan wajar. Ternyata kegamangan hilang dan komunikasi yang terjalin menjadi cair, terbuka dan apa adanya. 

Dengan lancar mbak Tunggal bercerita bahwa saat pertama bekerja di Semarang, mendapat pekerjaan sebagai juru masak di salah satu toko kelontong di area Pasar Randusari (Tlogobayem) selama 10 tahun. Berkat pengalamannya memasak dia pindah ke warung sop buntut Pak To. Setelah menerima pesangon dari pemilik toko kelontong sebesar Rp. 1.050.000,- (pada tahun 2009). 

Gambar 2 Aktivitas Pecel Mbak Tunggal di Acara di Kota Semarang 

Di tempat kerjanya yang baru, dia hanya bertahan selama 6 bulan karena dorongan suaminya untuk mencoba membuka usaha sendiri supaya bebas dan tidak tergantung pada orang lain, sambil mengurus rumah tangga. Untuk sementara bersama suaminya yang pekerja honorer di salah satu instansi pemerintah mereka tinggal di rumah mertua di daerah Pasar Kagok, Candi Baru. Dengan menyewa warung sederhana di depan RS Elisabeth, karir sebagai penjual pecel uleg dimulai. 

Pelanggannya dari berbagai kalangan mulai dari tukang parkir hingga pegawai RS, sebagai hasil promosi “gethok tular”(mouth to mouth) pelanggan makin beragam dan berasal dari berbagai tempat. Rejeki mengalir dengan lancar, sedikit demi sedikit menjadi bukit begitu kata orang-orang, keuangan keluarga menjadi lebih longgar. 

Berbekal uang arisan bakul-bakul Pasar Randusari sebesar Rp 30 juta ditambah patungan keluarga di kampung kemudian berhasil membeli tanah seharga Rp. 70 juta dan membangun rumah senilai Rp. 500 juta  di kawasan Pasar Kagok. 

Dibantu oleh 3 orang ibu-ibu tetangganya dia menjalankan roda bisnis kecil-kecilan milik sendiri. Memang mbak Tunggal tidak punya pembukuan formal, semua dia catat diluar kepala katanya. Transaksi dengan mitra-mitranya dilakukan secara tradisional berdasarkan rasa saling percaya (trust). 

Gambar 3 Aktivitas Mbak Tunggal di Warung Pecel Miliknya

Meski ditangani tanpa teori atau ada strategi marketing, mbak Tunggal bisa punya tabungan di KOSPIN JASA sebesar Rp 20 juta selain perhiasan yang memadai. Warung pecelnya mulai buka jam 07:30 sampai 13:00 WIB, dibantu 2 orang pekerjanya dapat meraih omzet sebesar Rp 1,8 juta perhari. Dengan menerima bayaran sebesar Rp 60.000 – 70.000/hari. Pembantunya awet bekerja sampai sekarang (mulai tahun 2009 s/d 2024)

Dalam kondisi keuangan yang semakin membaik, musibah datang pada saat Covid mulai mereda yaitu suaminya mengalami cedera di tangan kirinya (sarafnya putus) sehingga dioperasi dan dirawat hampir sebulan di RS dengan biaya BPJS. Suaminya dikeroyok sekumpulan preman kampung yang menggunakan sebuah LSM untuk menekannya. 

Akibat tindak kekerasan ini suaminya justru sempat ditahan selama 3 bulan di LP Kedungpane, namun segera dibebaskan akibat campur tangan instansinya. Dengan ketabahan hati seorang ibu, semua cobaan dapat dilalui berkat kepasrahannya pada Sang Maha Pencipta. 

Harapannya tidak pupus untuk memiliki sebuah rumah makan yang representatif dan membesarkan anak semata wayangnya melalui pendidikan yang baik melebihi dirinya.   

Kisah Ketiga

Suatu siang, usai makan siang penulis bergegas menuju kediaman mbak Syanaz (penggilan akrab Sanya) di perbukitan  Bukit Sari Gombel yang asri dan nyaman. 

Perempuan muda (48 tahun) cantik, ramah lagi cerdas sudah siap diajak ngobrol mengenai usahanya dibidang kerajinan tas yang sangat modis, trendy dan unik, membuat perempuan – perempuan “gandrung” memiliki  produk tasnya  yang tidak kalah dengan Gucci, Hermes dan sejenisnya.

Lulusan Fakultas Hukum Undip yang pernah menjadi seorang exchange student ke Australia ini, sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi. Wawasannya luas, selain memahami makna nasionalisme dalam suasana global, yang sering membuat generasi muda berubah kiblat.

Gambar 4 mbak Syanaz bersama dengan tas-tas Roro Kenès 

Konsep “nguwongke uwong” (humanize humans) yang dipilihnya sebagai dasar dalam mengembangkan usahanya sejak tahun 2014, menunjukkan kedewasaan yang paripurna. 

Nama produknya  Roro Kenès juga menyiratkan budaya Jawa yang kental, sesuai asal orang tuanya dari “tlatah Surakarta Hadiningrat.”  Sosok perempuan modern dan visioner, tetapi tidak tercerabut dari akar kearifan lokal (local wisdom), yang sampai hari ini terlihat mulai tergerus akibat pengaruh paham internasional yang negatif.

Patut diapresiasi di dalam mengembangkan usahanya, secara konsisten mbak Syanaz merekrut tenaga kerjanya dari komunitas lokal di sekeliling tempat tinggalnya.

Dengan tujuan utama membantu mereka untuk memperbaiki kualitas hidupnya sesuai dengan kebutuhan dasar manusia pada umumnya. Individu-individu yang direkrut haruslah pekerja keras yang siap berinovasi, menyerap ilmu baru dan terbuka atas masukan  dari para pelanggan. 

Kemampuan Produksi 

Sejak tahun 2019 sampai  tahun 2021, Roro Kenès memiliki 13 orang pekerja tetap dan 22 orang pekerja kontrak. Adapun kapasitas produksi yang dicapai, menyentuh angka 300 tas (leather bags) per bulan. Berdasarkan data tersebut selama tiga tahun sudah berhasil dipasarkan 10.000 tas, ini membuktikan Roro Kenès, mempunyai prospek yang cerah untuk mengisi market share baik di dalam maupun di luar negeri. 

Jumlah Karyawan Berdasrkan Asal Kota 

Lokasi Pegawai Tetap Pegawai Kontrak
Semarang 922
Luar Semarang 41
Total 1323

Sumber: Roro Kenès Profile 2024

Jumlah Karyawan Berdasarkan Gender

Gender Pegawai TetapPegawai Kontrak 
Laki-laki 75
Perempuan 617
Total 1323

Sumber Roro Kenès Profile 2024

Agar produksi semakin meningkat, maka semangat dan etos kerja wajib dijaga melalui pemberian gaji, sesuai UMR, hak cuti/libur, cuti selama menjalani haid (menstrual leave) khusus untuk pekerja perempuan, serta pemberian jasa produksi sesuai dengan bisnis profit yang dicapai. 

Dalam upaya membangun sinergi dengan tenaga kontrak yang sebagian besar perempuan, Roro Kenès mendirikan kelompok bernama Asmarandhana yang kemudian bermitra dalam mengembangkan produk. 

Lain daripada itu, Roro Kenès juga menjalin kerjasama dengan para pengrajin anyaman perempuan di Klaten. Sudah sejak lama warga Klaten akrab dengan kerajinan tenun, sehingga produk tenunnya terkenal dengan istilah Lurik Pedan sampai saat ini. 

Dari salah seorang pekerja bernama mbak Yuli (asal Madura yang berkerja di Roro Kenès sejak tahun 2022) saya memperoleh informasi, bahwa dia menganyam bahan tas dari kain kulit sapi dan domba setelah dilatih oleh salah seorang seniornya di perusahaan tersebut bernama pak Aziz. Mbak Yuli juga menganyam kulit sapi dari Italia, yang biasanya berukuran besar dan lembek. Sudah barang tentu, membutuhkan skill yang berbeda. 

Ibu muda ini, sebelum bekerja, mengalami KDRT dari suaminya. Sehingga, sempat ditampung di safe house bernama “Seruni” di Kota Semarang yang bernaung dibawah PKK Kota Semarang, pimpinan  bu Tia Hendi. Kekerasan tidak hanya dialami oleh dirinya tetapi juga anak laki-laki satu-satunya. Yang sempat ‘disembunyikan’ di salam satu pondok pesantren di Ungaran. 

 Meski berbekal pendidikan sebagai Sarjana Pendidikan Islam, mbak Yuli merasa nyaman, dan tidak rendah diri, karena banyak pengalaman yang diperolehnya. Apalagi, setelah dia berhasil bercerai dari suaminya. 

Sebagai seorang aktivis perempuan, mbak Syahnaz sangat peduli terhadap keselamatan pekerja perempuan. Boleh dikatakan, sebagian besar pekerja perempuan di tempatnya memang korban dari kasus KDRT. Menurut informasi yang penulis serap, hampir setiap hari dia dengan sabar menampung curhat nya para pekerja perempuan tersebut. 

Status perusahaan Roro Kenès termasuk perusahaan keluarga (Privat Ownership) yang bernama CV Janitra Abadi Berkah. Artinya, dengan modal awal milik keluarga Roro Kenès berkembang cukup pesat. Sehingga, dipercaya untuk memperoleh kredit usaha rakyat atau KUR Bank Jateng dan BNI 46.  

Setelah melakukan berbagai eksperimen di dalam produk-produknya, dengan desain yang klasik dan elegan, Roro Kenès mampu menembus pasa lokal maupun internasional meliputi: Australia, Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Jepang. 

Kesuksesannya menembus pasar global adalah hasil kerja keras dan keberaniannya mengikuti berbagai pameran di luar negeri yang tentunya harus berani pula menghadapi pesaing-pesaingnya dari berbagai negara. Agak berbeda dengan dua ibu rekannya yang mengalami batu ujian yang cukup berat, mbak Syanaz memiliki keluarga yang harmonis dan orang tuanya pun mendukung all out begitu pula suaminya. Dua buah hatinya sudah beranjak remaja bahkan telah duduk di perguruan tinggi.

Dilingkupi kondisi keluarga yang tenang, mbak Syanaz dapat tekun sekaligus fokus menjalankan roda bisnisnya. Dari ketajaman intuisi seorang perempuan dapat menciptakan sesuatu yang semula tidak bernilai (misalnya: kulit sapi, dan kain perca) akhirnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang ditulis oleh Peter F Drucker tahun 1988, seorang ahli manajemen dari Amerika yang menitikberatkan bahwa seorang wirausaha dapat berperan sebagai Agent of Change yang menyumbang cukup besar pada perekonomian suatu negara. 

Menurut RM Sunardi (Laksamana Muda TNI AL Purn.) dalam bukunya “Pembinaan Kebangsaan Indonesia, dalam Rangka menjaga Integritas Negara dan Pembentukan Jati Diri Bangsa tahun 2005, yang menyebutkan bahwa karakteristik dari seorang wirausahawan sudah sesuai dengan konsep ketahanan nasional yaitu: Keuletan dan Ketangguhan individu/masyarakat dan bangsa dalam konteks yang lebih luas akhirnya akan menciptakan, masyarakat adil dan makmur. 

Penulis ingin menggarisbawahi bahwa perempuan dapat berperan maksimal walaupun sering terkendala dan sering dipandang sebelah mata. 

Gambar 5 Roro Kenès in RMIT University

Mengakhiri cerita tentang kiprah Roro Kenès, perlu saya sampaikan beberapa penghargaan yang telah diterima oleh Roro Kenès: People’s Choice Awards Indonesia Good Design Selection 2021, Nominee Anugerah Bangga Buatan Indonesia, Tempo Circular Economy Award 2022, SWA Magazine: Indonesia Best Corporate sustainability Initiative 2023 dengan program creating Shared Value melalui Asmarandhana, dan SWA Magazine: Most Engaging Sustainability Initiative 2023 dengan program Circular Economy & 10R di Roro Kenès. 

Pendekatan Model Klaster/Cluster 

Beberapa ahli telah memberikan pengertian mengenai perihal pendekatan klaster ini. Menurut Schmitz & Nadvi, kluster adalah sektoral dan spasial dari beberapa perusahaan. Sedangkan Porter & Sakuramoto melengkapinya dengan menyatakan bahwa klaster adalah sekelompok perusahaan dan lembaga terkait yang berdekatan secara geografi, memiliki kemiripan yang mendorong kompetisi dan bersifat komplementaris. Sedang JICA menambahkan bahwa klaster adalah kelompok usaha terdekat yang berhubungan secara geografis.

Uraian di atas, telah menggambarkan cukup detail kiprah perempuan-perempuan urban (kota), tepatnya di Kota semarang sebagai ibu kota Provinsi jawa Tengah, di dalam perannya untuk memajukan perekonomian regional. 

Selanjutnya mari kita cermati apa yang sudah dilakukan pemerintah di dalam membangkitkan peran perempuan agar perekonomian semakin maju melalui program pendekatan model kluster. Terutama pasca Covid yang telah merenggut banyak nyawa, baik laki-laki maupun perempuan. Disini kembali perempuan kembali menjadi sentra perhatian, karena mereka justru yang menjadi korban karena kehilangan suami sehingga mengganti peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama. Bukan hal yang mudah untuk mendidik perempuan menjadi seorang wirausahawati, dimana dia dituntut harus memiliki keberanian, tangguh dan mandiri. 

Dalam tataran empiris penulis mendapatkan informasi dari mbak Rani selaku ketua dari kluster yang  berlokasi di Ungaran yang beranggotakan 100 ibu-ibu rumah tangga. Yang berhasil memproduksi aneka makanan kering (keripik), makanan basah, minuman, dan makanan beku. Capaian mba Rani tidak lepas dari dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, berupa pelatihan, dan kesempatan untuk mengikuti beberapa pameran serta kegiatan – kegiatan bisnis lainnya. Akses lain yang diperolehnya adalah fasilitas kredit dari perbankan. 

Jumlah entrepreneur di Indonesia sangat tertinggal dengan dengan negara tetangga misalnya Malaysia, Singapore, dan Thailand. Tantangan pengembangan wirausaha di Indonesia sangat kompleks diantaranya masalah budaya, sistem pendidikan, sistem politik, sistem ekonomi, dan kelembagaan dalam pengembangan kewirausahaan tersebut. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan diperlukan langkah strategis melalui pendekatan pengembangan klaster UMKM. 

Secara nasional perempuan mampu menggerakkan 34% usaha menengah, 50,6% usaha kecil dan dan 52,9% usaha mikro. Dengan demikian perempuan mempunya peran yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi nasional. 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

  1. Sebagai bagian dari elemen bangsa, sosok perempuan sejak berabad-abad lalu selalu memainkan peran signifikan pada pembangunan negara meliputi politik, ekonomi, sosial, budaya dengan dinamika yang berubah-ubah sesuai tuntutan zaman
  2. Memasuki dunia global, yang semakin terbuka dan transparan dibutuhkan inovasi, kreasi, maupun pemikiran yang “out of the box”. Perempuan harus berperan positif sekalipun masih saja terkendala oleh masalah gender,  tradisi, agama, pendidikan, dan lain-lain
  3. Dari studi kasus tiga perempuan tersebut diatas, dengan segala keterbatasan baik di bidang teknologi maupun akses ke berbagai institusi, maka menjadi kewajiban Pemerintah untuk memberikan afirmasi yang lebih serius. Pembinaan yang kontinyu dan berkesinambungan menjadi kunci utama. 
  4. Perempuan bukan sosok yang lemah dan selalu harus dilindungi, melainkan manusia ciptaan Tuhan yang memiliki kemampuan sama dengan laki-laki asalkan diberi kesempatan  yang sama tanpa diskriminasi
  5. Anggapan yang menyatakan bahwa perempuan itu emosional, tidak pantas menjadi pemimpin di jabatan publik, tidak tepat menjadi ketua parpol, pemimpin perusahaan (CEO), wajib ditepis dan “dilawan” melalui edukasi, advokasi, afirmasi, dan sebagainya.
  6. Saran
    1. Sejalan dengan posisi perempuan sebagai agent of change, unsur partisipatif harus dijalin dengan dunia akademis/pendidikan, mitra bisnis, komunitas, pemerintah dan media (pengembangan network).
    2. Menggelar mini seminar yang dilengkapi dengan pameran produk, kerjasama dengan organisasi perempuan, LSM, organisasi kepemudaan, dan lain-lain.
    3. Menjawab cita-cita mbak Tunggal, perlu dipikirkan adanya “frozen pecel” yang dikemas atraktif, higienis, dan mempertahankan rasa.
    4. Di branding sebagai “Javanese traditional salad with pounded peanuts sauce” (Bahasa Jawa, Pecel Uleg )
  7. Penutup

Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip apa yang disampaikan oleh Proklamator , Bapak Bangsa Bung Karno sebagai berikut:

…. ”Hai wanita-wanita Indonesia, jadilah revolusioner, – tiada kemenangan revolusioner, jika tiada wanita revolusioner, dan tiada wanita revolusioner, jika tiada pedoman revolusioner!” Ucapan saya ini adalah satu variant daripada ajaran yang terkenal: ”Tiada aksi revolusioner, jika tiada teori revolusioner”. ”Teori tak disertai perbuatan, tiada tujuan, perbuatan tiada pakai teori, tiada berarah tujuan.”…

Sarinah karya Bung Karno, 1947

Daftar Pustaka 

Nadvi, Khalid, Hubert Schmitz, University of Sussex, Institute of Development Studies, 1994

E. Porter, Michael. Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. Free Press, 1985 

Sunardi, RM. Pembinaan Kebangsaan Indonesia, Dalam Rangka Menjaga Integritas Negara dan Pembetukan Jati Diri Bangsa, Wawan Kebangsaan, Anasir Disintegrasi, Ketahanan Nasional, Kesejahteraan, dan Karakter Bangsa .2005. Jakarta: PT Kuaternita Adidarma 

Fakih, DR Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. 1999. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 

Costa, Mariarosa Dalla, & Giovanna F Dalla Costa. Kaum Perempuan dan Politik Strategi Ekonomi Internasional .2000. Jakarta: Kalyanamitra 

Author

  • Tokoh di bidang ekonomi dan ketahanan nasional dengan pengalaman panjang sebagai Sekretaris BKPMD Provinsi Jawa Tengah sekaligus dosen di Universitas Semarang, dengan fokus pada isu investasi, ketenagakerjaan, kependudukan, dan pengembangan SDM. Lulusan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro dan Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, aktif sebagai pembicara, moderator, dan fasilitator di berbagai forum nasional maupun internasional, serta penulis puluhan artikel media massa dan satu artikel jurnal internasional mengenai transformasi industri dan pembangunan daerah. Memiliki rekam jejak kuat dalam birokrasi, politik, dan organisasi profesi, dibuktikan dengan penghargaan Satya Lencana 20 Tahun PNS dan keterlibatan dalam berbagai forum strategis tingkat daerah, nasional, dan internasional.

    View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *